Tanggal 5-14 Oktober 1582 TAK PERNAH ADA !!

Sistem penanggalan pada kalender Hijriah
didasarkan pada perubahan fase bulan dari
bulan penampakan hilal atau bulan sabit tipis
ke hilal berikutnya.
Satu periode hilal sama
dengan satu periode sinodis bulan, lamanya
29,5306 hari.
Berbeda dari kalender Masehi yang digunakan
di seluruh dunia untuk kepentingan
administrasi, kalender bulan umumnya
digunakan untuk keperluan ritual agama dan
tradisi. Kedua kalender, satu tahun sama-
sama terdiri dari 12 bulan. Satu tahun Hijriah
memiliki 12 periode sinodis bulan atau
354,366 hari. Dibulatkan jadi 354 hari atau
355 hari untuk tahun kabisat.
Kalender Masehi didasarkan atas peredaran
Bumi mengelilingi Matahari dari satu titik
tertentu yang disebut solstis atau equinox
kembali ke titik itu. Lama perjalanan Bumi
mengelilingi Matahari 365,2422 hari—disebut
satu tahun tropis, dibulatkan menjadi 365 hari
atau 366 hari untuk tahun kabisat.
Perbedaan jumlah hari dalam satu tahun
Hijriah dan Masehi menyebabkan pelaksanaan
ibadah Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan
Idul Adha selalu maju 10-12 hari dari tahun
sebelumnya. Selisih 10 hari lebih maju terjadi
jika tahun kalender Hijriah adalah tahun
kabisat dan tahun Masehi-nya adalah tahun
biasa atau tahun basit (pendek). Sedangkan
selisih maju 12 hari terjadi jika tahun Hijriah-
nya tahun biasa dan tahun Masehi-nya
termasuk tahun kabisat.
Sederhana
Menurut peneliti Observatorium Bosscha dan
pengajar Sistem Kalender pada Program
Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi
Bandung, Moedji Raharto, saat dihubungi dari
Jakarta, Senin (9/8), sistem penanggalan bulan
banyak dipakai karena konsisten dan teratur.
Fase bulan terjadi berulang: bulan baru-bulan
sabit muda-bulan separuh awal-bulan
purnama-bulan separuh akhir-bulan sabit tua-
bulan mati dan kembali ke bulan baru secara
periodik. ”Perubahan wajah bulan secara
teratur di langit malam itu dicatat nenek
moyang kita dan terciptalah penanggalan
bulan,” katanya.
Sistem penanggalan memakai bulan sebagai
acuan disebut penanggalan bulan (lunar/
qamariyah). Kalender Jepang juga
menggunakan periodisitas penampakan bulan.
Penanggalan yang menggunakan Matahari
sebagai patokan, yaitu kalender Masehi atau
kalender Kristiani atau penanggalan matahari
(solar/syamsiyah). Sedangkan kalender China
dan Yahudi memadukan sistem penanggalan
matahari dan bulan secara bersama-sama atau
menggunakan sistem penanggalan matahari-
bulan (luni-solar).
Kalender bulan lebih sederhana dibandingkan
kalender matahari. Sebelum ditetapkan
sebagai kalender Hijriah, masyarakat Arab dan
umat Islam di masa Nabi Muhammad telah
menggunakan sistem ini, tetapi belum
dibakukan.
Baru pada masa Khalifah Umar bin Khattab,
sistem penanggalan itu dibakukan. Titik awal
yang dipakai adalah masa hijrah Nabi
Muhammad dari Mekkah ke Madinah,
bertepatan dengan tahun 622 Masehi. Karena
itu, tahun kalender Islam disebut tahun
Hijriah.
Kalender Masehi
Kalender Masehi dikembangkan dari sistem
kalender Julian pada masa Julius Caesar—
tahun 45 sebelum Masehi. Dalam kalender ini,
satu tahun tepat 365,25 hari, dibulatkan
menjadi 365 hari. Empat tahun sekali jumlah
hari menjadi 366 hari—disebut tahun kabisat.
Maju satu hari
Namun, panjang satu tahun tropis sebenarnya
adalah 365,2422 hari. Akibatnya, setiap 128
tahun kalender Julian maju satu hari dari
seharusnya. Hal itu berakibat pada
mundurnya waktu Paskah. Sesuai ketentuan,
Paskah jatuh hari Minggu pertama setelah
bulan purnama pertama sesudah Matahari ada
di titik vernal equinox—titik musim semi—
pada 21 Maret.
Untuk mengatasi itu, titik musim
semi harus dikembalikan agar tepat
pada 21 Maret. Maka, perlu dilakukan
pengurangan hari pada kalender
Masehi. Pada 1582 dilakukanlah
koreksi. Dengan mengacu ke Konsili
Nicaea yang menetapkan titik musim
semi pada 21 Maret 325, maka untuk
mengembalikan 21 Maret 1582 tepat
pada titik musim semi, jumlah hari
pada tahun itu harus dipangkas 10
hari. Akibatnya, sesudah tanggal 4
Oktober 1582 langsung melompat ke
tanggal 15 Oktober 1582. Artinya,
tanggal 5-14 Oktober 1582 tidak
pernah ada.
Koreksi juga dilakukan terhadap panjang satu
tahun tropis kalender Julian. Perbaikan itu
diajukan ahli fisika asal Naples, Aloysius Lilius,
dengan menggunakan panjang satu periode
tahun tropis adalah 365,2425 hari.
Perbaikan juga dilakukan pada tahun kabisat,
yaitu tahun yang habis dibagi empat dan
tahun yang habis dibagi 400. Tetapi, tahun
yang habis dibagi 100 tidak disebut tahun
kabisat.
Sistem ini diadopsi Paus Gregorius XIII.
Karena itulah sistem penanggalan itu disebut
sebagai sistem kalender Gregorian—yang kini
paling banyak digunakan untuk kepentingan
administrasi publik di seluruh dunia hingga
kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s